
Tahun rahmat Yubileum adalah tahun Istimewa dalam Gereja Katolik yang dirayakan 25 tahun sekali sebagai tahun penuh pengampunan, rekonsiliasi, rahmat, dan harapan. Di masa yang berlimpah rahmat ini, umat diajak untuk melakukan ziarah spiritual guna memperbarui iman serta mencari pengampunan dosa melalui tradisi suci melintasi Porta Sancta (Pintu Suci) untuk mendapatkan indulgensi. Langkah sederhana ini bukan sekedar rutinitas, melainkan ungkapan iman yang mendalam dan kesetiaan pada panggilan hidup rohani.
Dalam mengisi moment menjelang berakhirnya Tahun Yubileum ini, pada tanggal 27 November 2025, para lansia Simeon-Hana mengadakan Ziarah Porta Sancta sebagai kegiatan rohani bersama. Perjalanan ini dilaksanakan sebagai wujud syukur atas segala berkat Tuhan yang melimpah sekaligus menjadi sarana bagi para peziarah untuk memohon pengampunan atas segala kelalaian, seraya mempererat tali persaudaraan di usia senja.
Perjalanan ziarah ini diawali dengan mengikuti Misa Pagi di Paroki St. Herkulanus Depok serta mohon berkat khusus dari Romo Dismas sebelum memulai Ziarah Rohani. Para Lansia menggunakan dua bus besar. Rombongan Bus 1 terdiri dari 24 orang di bawah koordinasi Ibu Mien Karsino, sementara Bus 2 berisi 24 orang di bawah koordinasi Bpk A. Suyitno dan Ibu Ellya Anna. Rombongan Lansia Simeon-Hana berangkat pada pukul 07.00 langsung menuju destinasi pertama, yaitu Gereja St. Perawan Maria Benteng Gading. Ziarah kali ini bukan sekedar kunjungan wisata, melainkan sebuah upaya untuk kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui tempat-tempat suci.
- Perjuangan di Benteng Gading
Ziarah pertama dilaksanakan di Gereja St. Perawan Maria Benteng Gading yang berlokasi di Jl. Boulevard Raya Gading Serpong No.1533, Tangerang. Perjalanan dari Paroki St. Herkulanus menuju Gereja St. Perawan Maria Benteng gading ditempuh selama selama 1 jam 15 menit.
Setibanya di lokasi, para lansia disambut kemegahan gereja yang berdiri di atas ketinggian. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para lansia dalam upaya mencapai area gereja. Meski tersedia fasilitas lift dari lantai dasar, mereka memilih menapaki tanjakan cukup tinggi sebagai bentuk perjuangan dan penghayatan ziarah.
Sebelum mencapai pintu gerbang gereja, para lansia berhenti sejenak di depan patung Bunda Maria yang sedang menggendong kanak-kanak Yesus. Sebelum memasuki gerbang gereja, para lansia menyanyikan lagu Hymne Yubileum “ Peziarah Pengharapan “, mendaraskan doa sebelum melintasi pintu suci dan doa “ Sub Tuum Presidium”.
Setelah memasuki gereja, kegiatan dilanjutkan dengan mendoakan Doa Tahun Yubileum 2025. Kemegahan gereja yang berdiri anggun ini menyapa langka para lansia dengan keheningan yang sarat rasa syukur. Hati mereka diliputi sukacita karena diberi Rahmat untuk berziarah ke tempat kudus ini, sebuah tempat iman bertemu dengan keindahan.
Di sana, terdapat salib raksasa setinggi 7,3 meter dengan bentangan 4,8 meter. Salib yang dibuat dari kayu jati berdiameter 70 cm tersebut merupakan karya Gabriele C. Varenna, seniman asal Italia, yang menjadi symbol abadi akan kasih dan pengorbanan yang abadi.
Semburat warna oranye di sisi kanan gereja menghadirkan kehangatan yang menambah keindahan gereja ini. Dalam suasanan yang hening dan damai, para lansia larut dalam doa. Mereka tampak ingin tinggal lebih lama, menikmati setiap detik kebersamaan dengan Tuhan dalam keheningan yang menenangkan.
Usai doa-doa pribadi dipanjatkan, momen penuh rahmat itu diabadikan melalui foto bersama sebagai kenangan yang akan terus menetap dalam ingatan dan hati. Saat hendak meninggalkan gereja, para lansia kembali memanjatkan doa “ Setelah Melintasi Pintu Suci “.
2. Gereja St. Laurensius
Ziarah dilanjutkan menuju Gereja St. Laurensius yang berlokasi di Jl. Sutera Utama No. 2, Serpong Utara, Tangerang Selatan. Setibanya di Gereja St. Laurensius, para lansia memulai rangkaian ziarah dengan berdoa di depan pintu gereja. Mengingat gereja akan digunakan untuk pemberkatan pernikahan pada pukul 11.00, para lansia berdoa sebentar sebelum bergegas menuju goa di samping gereja.
Suasana sejuk yang berasal dari deretan pohon dan tanaman hias dalam pot menyertai langkah menuju area gua. Di sana, tersedia tempat berdoa yang nyaman bagi para peziarah yang ingin berdevosi lebih lama. Setelah seluruh rombongan berkumpul, para lansia mendoakan Doa Rosario bersama yang dipimpin oleh Bapak Suyitno.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, momen kebersamaan ini diabadikan dengan foto bersama di depan gereja dan di depan patung St. Laurensius.
Setelah disegarkan oleh doa di St. Laurensius, rombongan kemudian beranjak menuju Taman Doa Kasih Mulia Sejati.
3. Taman Doa Kasih Mulia Sejati
Taman doa ini berlokasi di area Gereja St. Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat. Setibanya di sana, suasana asri dan tenang langsung menyambut kedatangan para lansia yang tiba pukul 11.40. Saat memasuki area taman doa, para lansia disambut Patung keluarga Kudus Nazaret.
Di taman doa ini, lansia melaksanakan Ibadat Jalan Salib singkat. Agar suasana doa tetap khusyuk, rombongan dibagi menjadi dua kelompok sesuai dengan nomor bus masing- masing. Rombongan Bus 1 memulai Jalan Salib terlebih dahulu yang dipimpin oleh Bapak Paulus Jati. Lima belas menit kemudian, rombongan Bus dua menyusul untuk memulai doa yang dipimpin oleh Bapak A. Suyitno.
Suasana hijau begitu terasa dengan banyaknya tanaman dan pohon-pohon besar di sekitar taman doa. Di sana, terdapat deretan perhentian jalan salib/ stasi yang menggambarkan peristiwa Jalan Salib mulai dari Yesus dihukum mati, memanggul salib, hingga wafat dan dimakamkan.
Setelah ibadat Jalan Salib selesai, para lansia melanjutkan dengan doa pribadi di depan Gua Maria. Di samping gua tersebut, terdapat sumur air, namun airnya belum bisa dikonsumsi karena masih dalam proses uji laboratorium. Kehadiran pepohonan yang rimbung menciptakan suasana yang sangat sejuk, tenang dan hening. Setelah rangkaian doa selesai, para lansia melanjutkan kegiatan dengan makan siang bersama dalam suasana persaudaraan.
Destinasi terakhir dalam rangkaian ziarah ini adalah Taman Doa Our Lady of Akita yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk (PIK)2 dan Taman Doa Hati tersuci Maria.
4. Taman Doa Our Lady of Akita
Menjelang sore, rombongan tiba di kawasan PIK 2 untuk mengunjungi dua destinasi ikonik : Taman Doa Our Lady of Akita dan Taman Doa Hati Tersuci Maria. Setibanya di sana, para lansia disambut oleh arsitektur gereja dan taman doa yang unik dengan sentuhan gaya khas Jepang. Di tempat ini, para lansia kembali larut dalam suasana hening untuk memberikan penghormatan kepada Bunda Maria Akita. Keindahan detail bangunan dan suasana taman yang tertata rapi menjadi keunikan tersendiri. Setelah doa pribadi, para lansia foto bersama sebelum melanjutkan ke Taman Doa Hati tersuci Maria.
5. Taman Doa Hati Tersuci Maria
Perjalanan berlanjut ke tujuan akhir, yaitu Taman Doa Hati Tersuci Maria. Di taman doa ini, para lansia menutup rangkaian ziarah dengan mendoakan Rosario Kerahiman Ilahi. Dalam suasana tenang di tepi kawasan Pantai memberikan kedamaian tersendiri bagi mereka untuk memanjatkan doa syukur atas seluruh penyertaan Tuhan sepanjang hari.
“ Kami mempersiapkan ziarah ini dengan baik, mulai dari menghitung biaya, mendaftar peserta sesuai kapasitas bus, hingga menyiapkan buku doa agar perjalanan semakin khusyuk. Kami sangat bersyukur mendapat bantuan kendaraan gratis dari FIF (Federal International Finance),” ujar Ibu Mien Karsino.
Bagi beliau ziarah ini bukan sekedar perjalanan biasa, melainkan bukti penyertaan Tuhan bagi para lansia. “ Kami bersyukur meskipun sudah lansia, kami tetap merasa berguna dan mampu menjadi pewarta kabar gembira serta menyebarkan sukacita yang kami dapatkan. Di momen ini pula, kami para lansia merasa semakin kecil di hadapan Tuhan yang telah mengorbankan segalanya bagi manusia”
Sebagai penutup, Ibu Mien menyampaikan harapan yang mendalam bagi seluruh peserta. “ Semoga pengalaman Rohani selama ziarah ini membawa hidup kami semakin baik di hadapan Allah, karena kami dasar akan kasih dan karunia-Nya yang begitu nyata. Pengalaman ini akan menjadi kenangan indah yang membahagiakan, terutama karena adanya kebersamaan hanyat di antara kami para lansia. Perjalanan ini bukan hanya sekadar kunjungan fisik, melainkan sebuah perjalanan iman yang mempererat persaudaraan di usia senja. Langkah kaki kami mungkin mulai melambat, namun semangat iman para lansia tetap membara, membuktikan bahwa ziarah adalah perjalanan hati. Semangat untuk menjadi “ Peziarah Pengharapan “ membuktikan bahwa iman tidak mengenal batas usia. Kami pulang membawa satu keyakinan : bahwa di setiap tanjakan dan keheningan doa, Tuhan selalu ada memeluk kami, “ tambahnya.
Ziarah ini pun berakhir dengan hati penuh sukacita. Meski perjalanan cukup panjang, para lansia tetap semangat, membawa pulang rahmat dan kenangan indah dari setiap perhentian suci yang telah mereka kunjungi.


Terima kasih sudah di posting dan disimpan disini kenangan ziarah Yubelium Lansia Simeon Hana St Herkulanus