Ngomongin Lansia #Art 3 : Lansia Punya Peran Penting?

“Sebab usia lanjut terhormat bukan karena waktunya yang panjang dan tidak terukur dengan banyaknya tahun. Uban yang sesungguhnya bagi manusia adalah pengertian, dan usianya yang lanjut adalah hidup tak bercela” (Keb 4:8-9).

Soal B5
Pagi itu Si Kepo datang kembali. Kali ini bersungut-sungut minta segelas kopi. “Eh, tumben minta kopi pahit. Lah, hidupmu sudah pahit masih pingin kopit (kopi pahit).” Dia berkilah: “minus kali minus kan plus”, candanya sambil cengengesan.
“Eh, Dul (sekenanya kusebut namanya) kamu riang bener. Ndak bertanya seperti biasanya. Wah, jangan-jangan lagi pedekate nih.” Sambil mengambil gitar dan memetik sekenanya sehingga merusak kuping, terus dia geser duduknya. Mulai dia serius: “Kang (lain lagi dia manggil namaku) kalau B1, B2 aku tau, kalau B5 apaan sih?” serius dia nanya.
“B5?” “Setahuku sih soal: botak, budeg, blawur, bingungan, beser. Yang ada kaitannya dengan para adiyuswa (maaf ya), itu istilah yang terkesan negatif. Ada juga sih yang positif, kalau mau sekalian. Penting!?”

“Maksudnya bagaimana?” “Ini aku juga pernah dengar mudahan benar dugaanku (hubungannya dengan adiyuswa):” Botak.

Botak adalah kondisi seseorang yang memiliki rambut hanya sedikit di kepalanya. Orang yang botak rambutnya rontok karena bermasalah atau penyakit. Bisa juga karena usia sudah lanjut, ini sesungguhnya sangat wajar.

Budeg, tentu ini kurang dalam pendengaran. Ini juga bisa beraneka macam penyebab dan kondisinya, tidak hanya usia muda, tetapi, kalau sudah adiyuswa ya, sekali lagi wajar. Menurut ahlinya, sudah melalui banyak proses. Pak Ketua RT- ku bilang; kenikmatannya sudah mulai dikurangi. Juga seperti Blawur. Secara umum boleh dikatakan pandangan mata sudah kurang awas lagi, mulai buram.

Ada gangguan di matanya, bisa karena katarak, plus minusnya sudah besar. Pengaruh usia jelas sangat memungkinkan. Kemudian Bingungan. Ini juga karena faktor U juga bisa. Lupaan, tak ingat lagi naruh kacamata di mana misalnya (kacamata dicari untuk cari kacamata).

Alamat rumahnya juga lupa. Banyak hal yang mempengaruhi. Nah tak kalah penting adalah, Beser. Sering buang air kecil tidak hanya siang hari tetapi, juga sewaktu tidur malam. Orang tua-tua bilang ngompol. Bukan karena kebanyakan minum tetapi, daya tampung sudah tidak memadai. Maka periksa ke dokter spesial urologi tepatnya. Begitu!

“Lansia Punya Peran Penting”
“Pakde (lain lagi dia memanggilku, panggilan yang lagi ngetren, rupanya seingatnya saja tetapi, ya tidak masalah) hal tadi kan yang berkonotasi negatif. Kata pa’de ada juga yang positif dengan huruf depan B atau 5B atau B5. Kalau boleh usul nanti saja, kapan-kapan.” “Ah, kaya lagunya Koes Plus, kapan-kapan,” potongku.
“Ini saja pakde soal peran pentingnya lansia. Soalnya kakek nenekku kan termasuk lansia penting di zamannya. Itu cerita tentangga yang sudah senior juga. Tidak semuanya begitu sih. Banyak rasa-rasa yang lainnya kata mereka.”
Bisa dimengerti apabila banyak yang beranggapan bahwa, masa tua (adiyuswa, lansia) tidaklah menyenangkan, tidak bisa berdamai dengan keterbatasannya. Ya, memang masalah penurunan fisik jelas tak terhindarkan. Kualitas kesehatan pun juga mengalami penurunan.

Malahan ada yang mengalami demensia (pikun) itu juga tidak bisa dihindari. Ada juga karena masa lalunya yang moncer berkuasa sehingga, masa kini pun masih merasa mampu untuk mengendalikan orang lain supaya ada pengakuan bagi dirinya secara berkesinambungan, itu kata opini orang.
Perlu dipahami bahwa, tidak setiap orang lansia otomatis memiliki kehidupan yang positif.

Ada yang memandang masa lansia mereka tidak baik-baik saja. Tidak merasa bahagia dan kurang semangat, justru mempunyai perasaan negatif. Mereka sedih, kecewa, marah, menyesal, kesal, ngeyelan, menangan, dan bahkan tak berpengharapan.
Bapa Paus Fransiskus sepanjang masa kepemimpinannya menunjukkan kepedulian yang dalam terhadap umat lansia, menempatkan mereka sebagai bagian integral dari kehidupan keluarga, komunitas, dan Gereja. Dalam pesan pastoralnya pun mengajak umat untuk melihat lansia bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber kebijaksanaan, kekuatan, dan berkat bagi generasi yang lebih muda. Maka karena peran penting lansia itu kemudian Hari Lansia dan Kakek Nenek Sedunia dirayakan setiap tahun pada minggu ke empat bulan Juli.
Kisah inspiratif dari tokoh-tokoh di Alkitab pun baik untuk jadi hal menarik: Bagaimana Tuhan menugaskan Nabi Nuh yang kala itu sudah berusia lanjut, untuk memperbaiki tatanan kehidupan yang telah koyak akibat kekerasan dan kejahatan di muka bumi.

Kisah Naomi dan Rut, serta kisah Eleazar dan Yudit, yang memberikan inspirasi bagi para lansia untuk hidup dengan penuh keberanian dan kebijaksanaan. Maka sejatinya peran lansia sungguh sangat penting dalam Komunitas, Lingkungan, Wilayah, Paroki, Gereja, Masyarakat, dan lain sebagainya.
Dalam sebuah keluarga, lansia hadir sebagai pribadi yang harus dihormati oleh anak-anak dan cucu-cucunya, sebagai wujud bakti dan hormat anak kepada orangtuanya.

Dalam sebuah keluarga, lansia juga memiliki fungsi, yaitu menjadi saksi masa lalu dan sumber kearifan kaum muda dan untuk masa depan. Lansia mempunyai kharisma untuk menjembatani kesenjangan yang muda. Para lansia telah ditempa Tuhan. Lansia menjadi masa yang mendatangkan bahagia, bahkan kematian pun akan jadi akhir yang membahagiakan. Ada kasih Tuhan yang telah dirasakannya sepanjang perjalanan dan memancarkan kehidupannya.
Kita renungkan Kitab Kebijaksanaan ini: “Sebab usia lanjut terhormat bukan karena waktunya yang panjang dan tidak terukur dengan banyaknya tahun. Uban yang sesungguhnya bagi manusia adalah pengertian, dan usianya yang lanjut adalah hidup tak bercela” (Keb 4:8-9).

Pesan Santo Paulus
Santo Paulus menulis surat kepada Titus demikian: “Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan ketekunan. Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang yang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, melainkan menjadi pengajar hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuanperempuan muda, mengasihi suami dan anak-anaknya.” (Tit 2:2-4).
Paus Fransiskus mengajarkan bahwa lansia adalah saat yang memungkinkan seseorang untuk memahami tujuan sejati kehidupan. Beliau mengingatkan para lansia bahwa kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan merupakan langkah menuju pertemuan dengan Tuhan.
Sampai jumpa lagi di Ngomongin Lansia pada #Art 4: Pemberdayaan Lansia

Salam

Bagikan: