
#Art 4 : Pemberdayaan Lansia
“…sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan akan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yoh. 21:18)
5B Lagi
Tumben “Si Kepo” belum nongol hingga hari ini. Apakah ikut mudik gratis? Terus nyambung Paskahan lalu keterusan liburan Idul Adha. Tidak ada informasi yang bisa menjelaskan. Sepi juga tanpa dia meski pun kadang-kadang harus bersabar dalam melayani omongan dan pertanyaannya yang bertubi-tubi. Padahal aku pingin bertanya sama dia tentang lansia juga. Apa yang ada di benaknya dalam menyikapi, memahami, mungkin juga opini dia atau berpikir apa tentang lansia. Menurut dia tentang dan dari sudut perasaan, harapan, gambaran, pokoknya apa saja yang terlintas di angannya.
Karena “Si Kepo” (anggap saja sedang liburan ke Jogja) maka artikel kali ini mengusung tentang pemberdayaan lansia. Pesan utama: Gereja berjalan bersama, termasuk dengan para lansia yang adalah sumber kebijaksanaan.
Bila pada #Art 3 telah disinggung singkatan 5B yang konotasinya negatif. Maka sebenarnya para lansia itu juga punya 5B yang positif. Karena mereka memang: Bersahaja; sederhana, tidak berlebih-lebihan. Bijaksana; selalu menggunakan akal budinya, arif, hati-hati (cermat, teliti, dsb.) apabila menghadapi kesulitan. Bahagia. Berkarya. Bertekun dalam doa.
Ada Tanya
Di sekitar tempat tinggal penulis banyak lansiawati rata-rata usianya sudah di atas 70 tahun. Sulit nyambung bila diajak cakap-cakap, vokalnya sebagian sudah tidak jelas. Demikian juga yang lansiawan. Ada teman penulis bertanya (kepo juga sih): Nyambung gak ya ngobrol sama opa, oma, opung, embah, eyang? Tentu tidak semuanya kondisinya seperti itu. Masih banyak yang sehat, kuat, semangat, penuh minat meski ada keterbatasan. Maka jangan sungkan untuk bertanya.
Yang perlu dipahami, menjadi lansia itu ‘fase wajib’ yang harus dialami oleh manusia pada saatnya. Mungkin karena lansia (senior) dalam bayangan teman saya, dan yang sering dilihat, cenderung penuh keterbatasan. Tapi dia lupa, ketika usia menjadi batasan baginya, namun tidak bagi Tuhan. Tuhan tetap bisa memakai manusia lansia secara luar biasa, tanpa melihat berapa pun usianya. Masih mau tanya?
Pemberdayaan Lansia
Laksana Daud. Seperti Daud, demikian juga dengan para lansia. Pada usia senja, ia masih saja diberi anugerah oleh Tuhan untuk bisa melayani (menjadi tim Koor Paguyuban Lansia Simeon Hana (PLSH), anggota Koor Lingkungan – Wilayah, Tim Kesehatan, Pengurus PLSH, Kelompok Musik Angklung, Senam BEP, dlsb). Fisiknya yang masih kuat, suaranya yang masih tegas, pemikiran dan harapan-harapannya yang menginspirasi. Meski pun hal itu adalah inisiatif secara pribadi, bukan diperdayakan.
Namun demikian bahwa, menjadi lansia berarti memang ada keterbatasan. Suatu hal yang lumrah. Tetapi bisa menjadi produktif dengan melayani sesama teman-teman, saudara-saudaranya di PLSH dan dibanyak komunitas lainnya. Bisa juga juga aktif mengikuti Legio Maria dan kegiatan kategorial yang lain.
Diberikan kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam hidup menggereja (meski juga terbatas) akan membuat pikiran dan hati hepi. Apalagi masih diberi fisik yang terasa masih muda itu sangat menggembirakan. Diberi berkah kesehatan itu anugerah. Diberikan kepercayaan tentu membuahkan kegembiraan tersendiri. Dapat berkumpul dan bernyanyi bersama tentu berbuah kebehagiaan yang menyemangati. Dan kuncinya adalah rasa syukur.
Seperti kata Romo Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ: Tidak ada kata pensiun. Yang ada adalah pergantian tugas sesuai dengan waktu, kemampuan dan tuntutan zaman. Maka, solusinya adalah menerima situasi purnakarya sebagai ‘panggilan hidup baru‘ lalu berusaha untuk mengisinya agar bermakna, yaitu dengan hidup penuh kasih terhadap mereka yang serumah, dengan tetangga, komunitas, dalam rangka melaksanakan kehendak Allah. Dan pada waktunya dapat menemukan apa kehendak Allah. Luar biasa.
Harapan Di Ujung Senja
Seperti sebuah qoute yang ditulis oleh Joseph Campbell, seorang penyair dari Irlandia: “Bagai sebatang lilin putih di tempat suci, demikianlah keindahan wajah tua.” Sebuah ungkapan untuk mereka yang hidupnya mengikuti Kristus dan melayaninya. Sebuah ungkapan yang telah dicontohkan oleh Romo Kanjeng Darmaadmadja. Lebih luas lagi hal tersebut juga bisa menjadi ungkapan untuk kita, jika hidup kita (lansia) bisa menjadi berkat bagi sesama.
Lanjut usia, demikian menurut Santo Hieronimus, dalam komunitas tersebut mereka bisa saling berkomunikasi, saling berbagi, saling melayani, saling mendoakan, dan saling meneguhkan satu sama lain. Maka marilah kita sambut dengan sukacita ketika diberikan tugas, diajak berkolaborasi, ikut ambil bagian yang selaras dengan kemampuan, sekaligus untuk merayakan kehidupan, karisma para lansia yang tetap semangat dan solidaritas.
Di banyak paroki mulai menjawab seruannya dengan inisiatif nyata. Salah satunya adalah memberikan perhatian khusus kepada umat usia lanjut dalam rangkaian kegiatan di luar tugas pelayanan koor misalnya. Harus ada pendekatan pastoralnya: lansia tidak lagi dipandang sebagai kelompok pasif, melainkan sebagai agen perubahan dan pembawa inspirasi iman bagi dunia yang terus berubah. Menjadi sumber inspirasi, bimbingan, dan kekuatan bagi generasi muda.
Dan pada ujung senja hidup lansia, setelah menyelesaikan tugas perutusan, dengan sukacita dan kepala tegak, menghadap Tuhan Yesus dengan berseru: “Tuhan, aku telah memuliakan Engkau di dunia, kini permuliakanlah aku bersama Engkau disurga.” Dengan wajah penuh sukacita, Tuhan Yesus Sang Maharahim mengembangkan kedua tanganNya menyambut kita dengan penuh kasih.
Di akhir tulisan ini, Paus Fransiskus menegaskan bahwa penghormatan terhadap martabat lansia adalah ujian nyata atas kualitas iman dan kemanusiaan kita.
Sampai jumpa lagi di Ngomongin Lansia pada #Art 5: Warna-warni Lansia Keren
Salam.

