
Profesi petani sering kali dipandang sebelah mata oleh manusia yang dikuasai keserakahan. Padahal, di tangan merekalah sumber kehidupan itu tumbuh. Profesi petani kerap dihindari karena dianggap tidak bersih, sementara profesi berdasi dan berpenampilan rapi justru terkadang menjadi topeng yang menutupi kerakusan, menggerogoti hasil jerih payah para petani.
Dalam semangat kembali pada akar budaya pangan, Gereja Katolik Paroki St. Herkulanus Depok ikut ambil bagian dalam peringatan Hari Pangan Sedunia. Gereja dihiasi dengan nuansa hasil bumi — bukan sekadar untuk mempercantik ruang ibadah, melainkan menjadi simbol dan pengingat bahwa kita perlu kembali menghargai hasil bumi sebagai sumber kehidupan yang tak tergantikan.
Hari Pangan Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 1979 melalui konferensi umum ke-20 FAO. Delegasi Hungaria, Menteri Pertanian dan Pangan Dr. Pal Romany, mengusulkan gagasan perayaan ini. Sejak saat itu, peringatan ini dilaksanakan 16 Oktober setiap tahun di lebih dari 150 negara, sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian terhadap kemiskinan dan kelaparan.
Dalam homilinya, RD Agustinus Surianto Himawan mengajak umat untuk merenungkan kembali makna pangan lokal. “Cobalah satu bulan saja, hidup dengan kesadaran penuh, mengutamakan hasil bumi Indonesia sebagai bahan pokok. Supaya kita belajar seperti leluhur yang menggantungkan hidup pada tanah sendiri, bukan pada produk instan impor,” tutur beliau dengan nada menggetarkan hati.
Beliau juga mengingatkan pentingnya membangun budaya peduli lingkungan mulai dari rumah. Dengan memilah sampah — mengelola sisa organik menjadi kompos dan mengurangi limbah plastik — umat diajak untuk kembali membumi dan menjaga ciptaan.
Tak kalah penting, Romo Agus mengajak umat untuk mengambil makanan secukupnya, agar tidak ada yang terbuang. “Dari meja makan keluarga Katolik, semoga tumbuh semangat kemanusiaan yang menghargai setiap butir rezeki,” pesannya.
Peringatan Hari Pangan Sedunia di Paroki Herkulanus bukan sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk menumbuhkan kembali kesadaran kolektif: bahwa kehidupan manusia sejatinya berakar pada tanah yang memberi makan. Dan dari tanah itulah, kasih Tuhan mengalir menjadi berkat bagi semesta.

