Ecclesia Domestica dan Misi Perdamaian

Dua tahun terakhir, sebagai umat Keuskupan Bogor, perhatian pastoral kita tercurah pada dua momentum besar, yaitu perayaan 75 tahun Keuskupan Bogor (2024), dan perayaan tahun rahmat Tuhan sepanjang Tahun Yubileum (2025). Keuskupan Bogor merayakan Tahun Yubileum sambil memberi perhatian khusus pada orang muda dan lanjut usia.

Tahun 2026 kita semua diajak oleh Bapak Uskup untuk “Membangun Keluarga Sinodal yang Menciptakan Misi Pengharapan dan Perdamaian”, yang diinspirasikan oleh Kisah Para Rasul 18:2-3. Sejalan dengan tema pastoral tersebut maka tema natal nasional 2025 KWI-PGI “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga (Mat 1:21 24)” di Keuskupan Bogor dijabarkan lebih detil menjadi “Kristus, Juruselamat Lahir di Tengah Keluarga Sinodal yang Bermisi Pengharapan dan Perdamaian”. Tampaknya, keluarga sedang menjadi pusat perhatian para gembala kita, baik gembala Gereja Katolik maupun gembala gereja-gereja yang tergabung dalam PGI.

Keluarga sebagai Ecclesia Domestica

Sakramen Perkawinan menandai misteri kesatuan dan cinta kasih Kristus dengan Gereja Nya melalui suami-istri yang membangun kebersamaan seluruh hidupnya dalam keluarga. Di dalam keluarga lahirlah warga warga baru masyarakat manusia, yang karena pembaptisannya diangkat menjadi anak-anak Allah.

Maka mereka disebut Ecclesia Domestica, Gereja Rumah Tangga, tempat benih-benih iman bertumbuh dan berkembang lewat peran para orang tua sebagai pewarta iman pertama bagi anak-anaknya menuju kesucian hidup sesuai panggilannya masing-masing (bdk. LG 11, FC 21). Keluarga adalah persekutuan rahmat dan doa, sekolah untuk membina kebajikan kebajikan manusia dan cinta kasih Kristiani, tempat pendidikan doa yang pertama, di mana anak-anak Allah “berdoa sebagai Gereja” dan belajar bertekun dalam doa, yang mencerminkan Gereja yang hidup (KGK 1656, 1666, 2685).

Melalui keluarga, yang sering disebut juga “seminari perdana”, seorang anak disemaikan benih benih hidup rohani dan karakternya, yang kelak berguna bagi mereka untuk hidup di tengah tengah masyarakat serta relasinya dengan Allah.

Gereja menyadari 3 bahwa peranan orang tua amat menentukan masa depan anak anaknya. Bagaimana keluarga membangun kebersamaannya akan tercermin pada sikap hidup sehari-hari, apakah ada kebersamaan, ada doa bersama, ada saling pengertian, ada perhatian dan kasih satu sama lain. Jauh sebelum anak-anak menerima pendidikan formal melalui sekolah (dan masyarakat) mereka akan ditanamkan fondasi kehidupan iman dan karakter yang kokoh oleh para orang tua.

Berjalan Bersama Mewujudkan Komitmen

Dalam masyarakat modern, sering terlihat betapa kesibukan membawa ketidakpedulian orang tua pada anak-anaknya. Bahkan, peranan orang tua juga digantikan oleh orang lain, seperti kakek-nenek, kerabat dekat, maupun babby sitter dan asisten rumah tangga. Kalau kondisi “memaksa” orang tua Katolik untuk menitipkan anak-anaknya, bukan berarti orang tua sama sekali lepas dari tanggung jawab.

Saat upacara pernikahan, suami istri sebagai mempelai telah menyatakan kesediaannya untuk dengan penuh kasih sayang menerima anak-anak yang Allah anugerahkan kepada mereka, serta mendidiknya sesuai dengan hukum Kristus dan Gereja-Nya. Begitu juga ketika para orang tua membawa anak anaknya untuk dibaptis, mereka kembali berjanji untuk mendidik dan menuntun anak-anak dalam iman Katolik, membimbingnya agar semakin mengenal Allah dan mengasihi sesama. Melalui pembaptisan, orang tua mengantar anak-anaknya memasuki gerbang kehidupan Kristiani, hidup penuh rahmat, yang menuntunnya menuju keselamatan dan kehidupan kekal.

Natal 2025 dan Tahun Pastoral 2026 hendaknya kita jadikan kesempatan untuk kembali melihat fondasi kehidupan keluarga masing-masing. Apakah janji-janji yang pernah diucapkan oleh para orang tua sekian tahun lalu benar-benar sudah mewujud dalam kehidupan keluarganya? Apakah keluarga kita sungguh menghayati hidup yang penuh pengharapan? Siapkah mewartakan kebenaran dan damai dimana pun kita hidup, hadir, dan berkarya? Selamat Natal. Selamat memasuki Tahun 2026.

CATATAN: • LG, LUMEN GENTIUM (Dokumen Konsili Vatikan II, 1962-1965) • FC, FAMILIARIS CONCORTIO (Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, 1981) • KGK, KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (Ringkasan Keyakinan Umat Katolik, 1992)

Bagikan: