
Dalam semangat kebersamaan dan iman, sebanyak 18 orang umat Paroki St. Herkulanus Depok mengadakan perjalanan wisata rohani pada Selasa, 25 Agustus 2026. Tujuan kami kali ini adalah Kampung Baduy Luar dan dilanjutkan dengan berziarah ke Gua Maria Bukit Kanada, Rangkasbitung.
Berangkat pagi dengan Semangat
Perjalanan dimulai pukul 05:00 dari parkiran Apotik Kimia Farma, Maharaja dengan menggunakan kendaraan elf. Sebelum meninggalkan Depok, kami sempat singgah di gereja untuk menjemput beberapa umat. Puji Tuhan, perjalanan menuju Baduy berjalan lancar.
Tepat pukul 09:30 kami tiba di Terminal Ciboleger, pintu gerbang menuju tanah Baduy. Di sini kami disambut oleh Pak Mursid, pemandu kami yang merupakan warga Baduy Luar.
Menelusuri Kehidupan Sederhana Suku Baduy Luar
Perjalanan memasuki pemukiman Baduy Luar dimulai. Jalur yang kami tempuh sangat menantang. Kami harus mendaki dan menyusuri jalan tanah selama kurang lebih 1 jam. Medan yang menanjak memang menguras tenaga, namun canda tawa dan saling menguatkan membuat kami tetap semangat.
Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang menyejukkan. Kiri kanan jalan dipenuhi pohon-pohon besar sehingga hawa terasa sejuk dan udara sangat bersih, bebas polusi. Meskipun keringat bercucuran, kami merasa segar karena menghirup udara murni.
Kami juga bertemu dengan anak-anak Baduy usia SD-SMP yang berjalan kaki sambil memikul durian di bahunya. Maklum, bulan Agustus adalah musim panen durian di Baduy. Beberapa pengunjung kampung baduy juga tampak beristirahat di teras rumah karena tidak kuat menanjak. Rumah-rumah tradisional Baduy berjajar di sepanjang jalan. Penghuninya sangat ramah. Mereka duduk-duduk di teras dan dengan senang hati mau diajak foto bersama.
Budaya Baduy Luar yang Kami Lihat:
- Kesederhanaan: Hidup mereka jauh dari teknologi modern. Tidak ada listrik, tidak ada kendaraan bermotor di dalam kampung.
- Pakaian Adat: Wanita Baduy Luar sehari-hari mengenakan kebaya khas Baduy. Sementara pria mengenakan baju hitam, celana hitam, dan ikat kepala khas Baduy. Bahkan anak-anak perempuan pun sejak kecil sudah terbiasa berkebaya.
- Keramahan dan Gotong Royong: Mereka hidup berdampingan dengan alam dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di rumah Pak Mursid. Sambutan hangat berupa ubi rebus ungu sudah menanti. Di rumahnya juga tersedia kain tenun, ikat kepala, dan berbagai aksesoris khas Baduy yang bisa kami beli. Tentu saja durian segar hasil panen tidak kami lewatkan. Kami pun memborong durian.
Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama, hidangan sederhana yang disiapkan keluarga Pak Mursid. Sungguh kami salut dengan kehidupan mereka yang sederhana, bersahaja, namun penuh makna.
Pukul 14:00 kami pamit dari rumah Pak Mursid. Perjalanan turun jauh lebih ringan. Di Terminal Ciboleger kami sempat terjebak macet parah. Bersyukur Pak Nico dengan sigap turun tangan. Dengan kharismanya dan memakai ikat kepala khas Baduy, beliau membantu mengurai kemacetan dan memandu para pengemudi.
Berdevosi di Gua Maria Bukit Kanada
Dari Baduy, perjalanan kami lanjutkan ke Gua Maria Bukit Kanada, Rangkasbitung. Tempat ini menjadi tujuan ziarah kami. Di sana kami meluangkan waktu untuk berdoa pribadi, merenungkan kasih Tuhan dan Bunda Maria. Perjalanan ini kami tutup dengan berdoa Rosario bersama sebagai wujud devosi kami kepada Bunda Maria. Dalam hening dan damai, kami menyerahkan seluruh perjalanan dan kehidupan kami ke dalam bimbingan Bunda Maria, Bunda Pengantara Segala Rahmat. Sebelum kembali ke Depok, kami sempat makan malam bersama di Alun-alun Rangkasbitung.
Pulang dengan Hati Penuh Syukur
Puji Tuhan, perjalanan pulang berjalan lancar. Kami tiba kembali di Depok pukul 21:30 dengan selamat. Perjalanan ini bukan hanya sekadar wisata, tetapi juga menjadi pengalaman iman dan pembelajaran budaya. Dari Baduy kami belajar tentang hidup sederhana dan harmoni dengan alam. Dari Gua Maria Kanada kami kembali dikuatkan dalam iman dan devosi. Ad Jesum per Mariam – Kepada Yesus melalui Maria.
Seorang peserta trip yaitu Ibu Maris, mengatakan : “Melihat wajah orang Baduy seperti melihat wajah para artis. Saya menyimpulkan ternyata skincare termahal orang Baduy adalah alam ditambah pola hidup tenang. Berbeda dengan kita, pakai skincare tapi tidur jam 1 malam, stres karena pekerjaan, dll. Pelajaran yang beliau dapat dari orang Baduy yaitu sehat dari dalam dulu, luarnya mengikuti. Ilmu dari orang Baduy itu warisan yang telah dipakai ribuan tahun, alami, tidak merusak alam. Kita tinggal pilih yg cocok sama hidup kita sekarang. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa bahagia itu tidak ribet, cukup bersyukur selaras sama alam. Orang Baduy bukti nyata bahwa pintar itu tidak harus lewat sekolah formal.”
Terima kasih untuk kebersamaan yang indah ini .

