Umat Lingkungan St Andreas Menutup Tahun Yubileum 2025

4 Paroki di KAJ Menjadi Tujuan Utamanya.

Dari spontanitas beberapa umat yang hadir dalam AAP 2025 Pertemuan 2 tercetuslah ide untuk menutup Tahun Yubileum 2025 yang diinformasikan oleh Rm Agus bahwa, Keuskupan Bogor mengambil 28 Desember 2025 sebagai penutupnya.

Maka Kamis, 17 Desember pagi berangkat mengunjungi 4 paroki di Jakarta Timur – Bekasi yang bisa ditempuh dalam jarak dekat dan saling berbatasan. Apabila sebelumnya 2 bis melaju membawa sebagian besar umat St Andreas tetapi, pada hari biasa (bukan libur) ini cukup 2 mobil menelusuri jalanan Depok menuju lokasi Lubang Buaya tujuan pertamanya. Cukup ramai lancar meski sedari berangkat cuaca tidak bersahabat, gerimis ringan.

  1. Gereja Katolik Paroki Kalvari di Lubang Buaya, Jakarta Timur

Sekilas

Paroki Kalvari Lubang Buaya, awalnya adalah salah satu wilayah yang masuk dalam Paroki Santo Robertus Bellarminus, Cililitan (1976 penulis sudah menjadi umat paroki ini). Seiring pertumbuhan umat Katolik maka dimekarkan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ, waktu itu. Kemudian Pastor Kepala Paroki Cililitan, R.P. Justinus Muji Santara, S.J., menamai umat di wilayah ini sebagai “Umat Kalvari” Stasi Pondok Gede.

Dari Stasi Pondok Gede (1978) → Stasi Kalvari (1987) → Gereja Bedeng (1993) → Paroki Lubang Buaya resmi (1995). Ketika Paroki St Herkulanus mencari dana untuk pembangunan Gedung Pastoral masih berupa gedung bedeng mereka menamainya. Baru 2024 diberkatilah  Gedung Gereja Kalvari oleh Bapa Uskup Ignatius Kardinal Suharyo. September 2025, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Gereja Kalvari dan menurutnya gereja tersebut merupakan salah satu gereja paroki dari 69 yang ada di Jakarta.

            Perbedaan sangat mencolok bila dibandingkan ketika umat St Herkulanus mencari dana dengan kondisi saat ini. Gedung Gereja, Pastoral megah, luas dan jauh lebih tinggi dari permukaan tanah yang sering banjir. Lorong liku penghubungnya cukup unik. Apalagi taman doanya, Taman Doa Kalvari yang penataan fasilitas serta desain eksteriornya pun asri nan keren.

Dari Kapel Menuju Makam Yesus

Dengan didampingi petugas penyambutan yang ramah dalam gerimis menyertai prosesi di ruang terbuka nan asri usai berdoa di Kapel karena, di Gereja sedang ada misa para siswa dan orangtua siswa Sekolah St Markus yang berada di seberang gedung gereja.

Taman Doa Kalvari berada di bawah sebelah kanan gedung gereja. Di lorong yang berliku terpampang banyak sekali gambar dan tulisan menghiasinya. Tanpa pendamping bisa nyasar meski hanya seputaran area taman. Ada ruang Makam Yesus dengan pintu yang bisa ditutup bentuknya bulat, untuk masuknya pun harus menunduk. Di dalam tidak cukup luas untuk berdoa. Senyap terbawa dalam kontemplasi.

Gambaran penyiksaan Yesus dengan diorama patungnya cukup besar semakin kita terbawa dalam alam yang miris. Meski demikian kesan dan suasana mistiknya memang tidak ada. Ada keteduhan dan ketenangan di sana.

Tidak lupa foto bersama karena, viewnya sangat bagus. Kemudian lanjut menuju ke Kampung Sawah.

Foto Bersama di Paroki Kalvari Lubang Buaya Foto: Ipung

Sekilas

Sebuah gereja paroki Katolik yang sebagian besar beranggotakan warga Katolik Betawi di wilayah Kampung Sawah, BekasiJawa Barat. Di Kampung Sawah sendiri budaya Betawi tetap bertahan.  Salah satu ritual budaya Betawi yang masih bertahan, walaupun mengalami perubahan, adalah bebaritan atau yang saat ini dikenal dengan namasedekah bumi. Uniknya, ritual masih dilakukan di paroki ini. Gereja yang berada dalam reksa pastoral tarekat Serikat Yesus (S.J.). Penulis pernah ke gereja ini pada 1983 melewati Pondok Gede, Pasar Kecapi dan saat itu masih sulit kendaraan. Sekarang relatif mudah dijangkau dengan kendaraan R4.

Gereja Katolik di Kampung Sawah dibangun dan dikembangkan berbasis budaya Betawi yang terbuka pada keanekaragaman dengan semangat persaudaraan sejati berlandaskan cinta kasih dan pelayanan. Sudah biasa bagi umat di Gereja Santo Servatius, melihat umat berpakaian ala Betawi, lengkap dengan sarung dan peci, juga ikut dalam misa.

Ada lagu yang bergaya Betawi berjudul Seluruh Jemaat Datanglah: Syairnya demikian: “Seluruh jemaat, datanglah. Menuju altar Tuhan Allah. Alunkanlah lagu pujian. Kita puji kebesaranNya. Plak kendang dung plak plak plak kendang nyaring ditepak. Yang mengiring misa semua nyanyi riang…” cukup populer dan khas aransemennya bergaung mengisi langit-langit kubah.

Banyak Relikui

Sewaktu memasuki pelataran gereja disambut petugas pria yang beratribut peci hitam, baju koko (biasanya baju sadana putih, celana komprang, sarung merah) tanpa golok, sedangkan para ibu menggunakan sarung batik dan kebaya kembang. Dan sejenak ber foto di depan Porta Sancta, kemudian berdoa dan dipandu memasuki Gereja. Gedung Gereja yang cukup usia dan khas romanes.

Pembangunan renovasi gereja dengan pilar serta kubahnya yang dirancang arsitek Gregorius Sidharta (G. Sidharta) bergaya Romanesque pada saat kepemimpinan Pastor Paroki Kampung Sawah R.P. Rudolphus Kurris, S.J. dengan berbagai fasilitas, ada Pendopo, Saung Maria, Sakristi, dll.

Sesepuh Paroki Servatius, Martinus Sapiun lebih jauh menjelaskan tentang relikui yang kini terletak di dalam bangunan gereja, sebelah panti imam, yang ditandai dengan Patung Santo Servatius. Terdapat dua buah relikuarium di masing-masing sebelah kiri dan kanan patung tersebut. Relikuarium tersebut menyimpan setidaknya relikui dari:

            Setelah berdoa dalam gereja kemudian turun menuju ke Saung Maria (Taman Doa bukan Gua Maria) terletak di belakang gereja. Saung Maria berbentuk ruang terbuka cukup luas, sedikit dinaungi kanopi. Gereja apabila dilihat dari belakang nampak menara 7 lantai yang mempunyai filosopi tersendiri. Di sebelah depan kanan saung ada sebuah Pakeng (gudang beras khas Betawi) masih dipertahankan.

            Usai prosesi di samping gereja tersedia bir pletok, penganan khas Betawi, dll untuk oleh-oleh. Pamitan untuk meneruskan peziarahan menuju ke Paroki Stanislaus Kostka Kranggan. Gerimis kecil mengiringi perjalanan.

Paroki Servatius Kampung Sawah. Foto : Ipung

Sekilas

Gereja Katolik Santo Stanislaus Kostka Kranggan adalah paroki teritorial ke 68 resmi ditetapkan oleh Bapa Uskup Ignatius Kardinal Suharyo, di bawah Keuskupan Agung Jakarta yang terletak di Bekasi, Jawa Barat, diresmikan menjadi paroki pada 14 Agustus 2022, dan terkenal dengan arsitektur unik, termasuk lukisan langit-langit bertema penciptaan hingga jatuh ke dalam dosa.

Terdapat Goa Maria “Ave Maria Gracia Plena” di belakang gereja setelah menaiki tangga. Juga melewati pohon ara di halaman belakang gereja. Pohon ara yang berbuah lebat, subur berdaun lebar. Dan tentu tidak lupa berdoa secara pribadi-pribadi yang sebelumnya melakukan prosesi doa yubileum.

“Ad Maiora Natus Sum ” – Aku Lahir Untuk Hal Besar   adalah Semboyan St Stanilaus.

Beberapa umat paroki ini sedang menyiapkan dan mempersolek diri dalam menyiapkan Natal 2025. Meninggalkan kesibukan umat setelah berpamit untuk meneruskan kegiatan berikutnya: ke Cilangkap.

Porta Sancta Paroki Stanislaus Kotska Jakarta Barat Foto: Ipung

Sekilas

Peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Santo Yohanes Maria Vianney pada saat Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo pada 2012. Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama meremsikan Gereja Anak Domba Santo Yohanes Maria Vianney pada 24 Desember 2015 sebagai bagian dari kunjungannya pada Malam Natal tahun 2015. Kemudian diresmikan serta diberkati pada 30 Juli 2017 oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo.

Patung Yesus (Corpus) besar yang terletak di belakang altar terbuat dari bahan potongan besi bekas. Teguh Ostentrik, seorang seniman asal Jakarta, melakukan pekerjaan atas salib tersebut. Pada salib wajah Yesus tidak digambarkan memandang ke depan ataupun ke samping, tetapi digambarkan menengadah ke atas. Hal ini menggambarkan saat Yesus disalib dan menyerahkan nyawa-Nya.

Pada bubungan kubah (dilihat dari luar), terdapat ornamen anak domba yang berada di titik paling atas gereja. Ornamen ini dibingkai dengan besi yang dibuat dalam bentuk lingkaran dan menyerupai bentuk monstrans. Pemilihan ornamen anak domba dilakukan agar lebih dapat diterima oleh masyarakat sekitar.

Tabernakel pada Gereja Anak Domba memiliki bentuk menyerupai piala dan hosti. Tabernakel ini juga dikelilingi gambar para malaikat. Hasil rancangan dan dikerjakan oleh Yani Sastranegara yang juga membuat tabernakel di Gereja Kristus Raja, Pejompongan.  Patung Yesus dan Bunda Maria yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri altar terbuat dari bahan lilin.

Juga terdapat Kapel Santo Petrus. Kapel ini berbentuk menyerupai kapal sehingga disebut sebagai kapel kapal. Kapel tersebut berlokasi di bawah panti imam dengan bahan dasar berupa kayu.

Gereja Anak Domba sebutan untuk Gereja Yohanes Maria Vianey juga memiliki Rumah Doa Bunda Maria berupa sebuah pendopo (Pendopo Maria) terletak di belakang gereja. Di pendopo ini juga terdapat tujuh mata air dalam wadah gentong, yang merepresentasikan tujuh mata air sumber kasih setia Yesus. Membasuh tangan dan cuci muka terasa sejuk segar kemudian berdoa di pendopo. Di tengah-tengan pendopo ada patung bunda Maria menggendong kanak-kanak Yesus, cukup tinggi dengan memakai kain jarik.

Sebelum meneruskan perjalanan pulang ketemu terlebih dulu dengan Romo Hadi yang sedang bermain tenis meja. Sehat senantiasa Romo.

Mendung menggelantung menyertai dalam kembali menelusuri jalanan yang relatif padat merayap ciri khas perkotaan.

Foto Bersama Di Paroki St Maria Vianney Foto: Ipung

           

Bagikan: