
#Art 1 : USIA LANJUT atau LANJUT USIA?
“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun. Dan penuh dengan kesukaran dan penderitaan …..”(bdk. Mzm 90:10).
Temanya kok Usia Lanjut atau Lanjut Usia?
Iya boleh dong, tetapi kita tidak usah buru-buru, simak dulu dua pertanyaan yang dilontarkan Romo Bejo (dalam budaya Jawa, Romo itu panggilan yang konotasinya sama dengan Bapak. Jadi bukan seorang Pastor):
“Apa persamaan antara masa kanak-kanak dengan masa lansia?”
Karena tidak ada yang merespon, dia jawab sendiri: “Persamaannya adalah sama-sama kekanak-kanakan.
Eh, dia nanya lagi: “Apa perbedaan antara kanak-kanak dengan lansia?”
Tetap saja tidak ada yang menjawab, maka dia jawab sendiri lagi: “Kalau kanak-kanak selalu mendapat perhatian, tetapi kalau lansia hanya menjadi beban.”
Kata siapa hanya menjadi beban?
Ya, kata Romo Bejo lah.
Mungkin saja hal di atas karena melihat dari sisi pribadi yang lemah dan perlu perhatian secara khusus. Meskipun tidak dapat ditolak pengertiannya bahwa, yang muda masih perlu dibantu untuk tumbuh kembang, sementara perhatian untuk yang usia lanjut tidak seserius apabila dibandingkan dengan yang usia muda. Yang jelas masa usia lanjut merupakan suatu keuntungan, karena secara pribadi telah mengalami pengalaman-pengalaman dan anugerah dalam perjalanan panjangnya.
Para lansia tidak boleh dituduh membebani generasi muda dengan biaya pengobatan dan dana pensiun mereka. Sebuah gagasan yang memicu konflik antar generasi dan mendorong orang-orang lanjut usia (lansia) ke dalam isolasi, kata Bapa Paus Fransiskus.
“Tuduhan bahwa orang lansia ‘merampas masa depan kaum muda’ saat ini ada di mana-mana,” tulis Paus Fransiskus dalam pesannya untuk Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia, sebuah perayaan yang selalu diadakan Gereja Katolik yang berlangsung pada 28 Juli.
Coba lihatlah di sekitarmu, atau di dalam keluargamu. Maksudnya kalau yang masih muda bisa melihat ortumu. Kalau yang sudah adiyuswa ya cukup merefleksi diri. Bisa juga mengamati di komunitas lansia. Atau barangkali di tetanggamu, masyarakat sekitarmu. Dan jangan berasumsi dua kata itu mengindetifikasikan orang yang sudah nenek-nenek atau opa-opa. Nah yang masih kelihatan muda juga sudah punya cucu, sebutannya bisa opung, eyang, mbah, dan lain-lain.
Memangnya berapa sih batasan usia seorang yang diberi label lansia itu?
Tanya Mak Mai (nama panjangnya sih sebetulnya Maimunah. Jangan bilang-bilang, katanya meminta).
Coba simak pada alinea paling atas. Kutipan mazmur itu dipakai sebagai pembuka surat Paus Yohanes Paulus II kepada umat lanjut usia yang ditulis beliau 1 Oktober 1999.
Maka banyak orang beranggapan usia lanjut itu berusia 70 tahun ke atas dan dianggap sudah mengalami krisis di dalam hidupnya. Dengan pelbagai rasamerasa yang disematkan padanya; merasa tidak diterima, merasa hanya sebagai beban, merasa tersisihkan, merasa dikelompok-kelompokkan, merasa tidak diperhatikan, dan banyak lagi yang lain.
Kategori usia lansia umumnya di negara kita Indonesia dihitung dari usia 55 tahun ke atas. Secara umum, usia 60 ke atas di sebut usia lanjut. Sedangkan kategori usia menurut Depkes RI (2009): Masa lansia awal = 46 – 55 tahun. Masa lansia akhir = 56 – 65 tahun Masa manula = > 65 tahun.
Kenyataannya, bila kita lihat di dalam Gereja saat mengikuti misa, merayakan Ekaristi masih banyak umat yang sudah memasuki usia diatas 60 tahun, tapi enggan dikatakan lansia maka, mengambil tempat duduk yang bebas.
Mau iseng, coba lihat di bangku yang di labeli lansia tidak sepenuhnya ditempati (penulis sering iseng pula memperhatikan di beberapa paroki sama saja), banyak yang duduk di tengah, di depan. Tempat duduknya kurang banyak! Bisa jadi. Males dikatakan sudah lansia. Mungkin. Belum merasa tua, kok kayaknya dipilah-pilah soal duduk saja. Nah!
Di paroki kita sebenarnya terhitung sangat banyak jumlahnya menurut Siformat.
Jadi pengertiannya bagaimana Romo Bejo, plis deh!
Huwadhuh, begini saja penjelasannya, mudahan mudheng: Lanjut Usia dan Usia Lanjut sebenarnya memiliki arti yang sama, yaitu merujuk pada orang yang telah berusia lanjut atau tua. Namun, dalam konteks bahasa Indonesia, ‘Lanjut Usia’ lebih sering digunakan sebagai istilah yang lebih sopan dan resmi, sedangkan ‘Usia Lanjut’ lebih umum digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Dalam beberapa konteks, ‘Lanjut Usia’ juga digunakan untuk merujuk pada kelompok usia yang lebih tua, biasanya di atas 60 tahun, sedangkan ‘Usia Lanjut’ lebih merujuk pada kondisi seseorang yang telah tua. Tetapi secara umum, kedua istilah tersebut dapat digunalkan secara bergantian.
Doa mazmur berikut menutup tulisan pada artikel 1 ini sebagaimana dipanjatkan Santo Yohanes Paulus II: “Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak masa kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatanMu yang ajaib; juga sampai pada masa tuaku dan putih rambutku. Ya Allah, janganlah meninggalkan daku, supaya aku memberitakan kuasaMu kepada angkatan ini, keperkasaanMu kepada semua orang yang akan datang” (mzm 71:17-18).
Sampai jumpa lagi di Ngomongin Lansia pada #Art 2: Lansia Sebagai Komunitas Kategorial.
Salam.


Lansia seperti pak Wahyudi tergolong manusia yang berdaya guna Selamat menikmati masa tua yang bahagia